Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 09 Februari 2011

Carnaval AKPARDA


Minggu, 06 Februari 2011

Purwanto SP.,S.Sos,SH,MSi,MPar

Purwanto Sumarto Putro bersama beberapa teman yang berkecimpung di dunia kepariwisataan di Yogyakarta, mendirikan Yayasan Dharma Nusantara Sakti sebagai wadah dari sebuah perguruan tinggi berjenjang Diploma III,  yang dinamakan Akademi Pariwisata Dharma Nusantara Sakti, disingkat AKPARDA. 
Beliau adalah orang yang ulet dan berdedikasi tinggi  dalam mendharma baktikan diri di dunia industri pariwisata. Tuntutan dasar sebagai sarana utama dalam mengembangkan industri pariwisata adalah pada penyediaan sumber daya manusia, yang mana kebutuhan sarana ini telah  menggerakkannya untuk secara penuh mengabdi pada dunia pendidikan pariwisata ini. 


Kiprahnya dalam pendidikan pariwisata telah dimulai sejak mahasiswa fakultas hukum Universitas Gadjah Mada, membantu ayahandanya, Drs. Soekirdjo  yang mendirikan Akademi Kepariwisataan Indonesia (AKI) dengan jabatan "tukang ketik" yang mana sampai tugas terakhir sebagai Pembantu Direktur III pada Politeknik API , status baru Akademi Kepariwisataan Indonesia, setelah berganti nama menjadi Akademi Pariwisata Indonesia (API).


Beberapa kegiatan lainnya baik yang didirikannya sendiri maupun bersama kawan-kawannya adalah SMIP Trisula I Depok, Balai Pendidikan Pariwisata TRISULA, Yayasan Padma Budhaya yang dipimpinnya bekerjasama dengan Koperasi Karyawan Ambarrukmo Palace Hotel mendirikan Yayasan Pendidikan Karya Sejahtera yang menaungi Akademi Pariwisata AMPTA  yang mana beliau pernah menjabat sebagai Direktur.
Kalau boleh dibilang sebagai dedikasi dan hobi, beliau juga membantu kelahiran Akademi Pariwisata "AKPRAM" dan Sekolah Menengah Kejuruan (Pariwisata) di Boyolali.


Untuk memperjuangkan dan melancarkan cita-citanya membina insan-insan pariwisata, beliaupun banyak bergaul dan bekerjasama dengan pimpinan hotel-hotel, melalui kegiatan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), IAPINDO (Ikatan Ahli Perhotelan Indonesia), HILDIKTIPARI (Himpunan Lembaga Pendidikan Pariwisata Indonesia) dan berbagai forum yang berkaitan dengan pendidikan pariwisata. Bahkan dalam aktivitasnya juga diserahi penerbitan Majalah REGOL dalam rangka pensosialisasian Pariwisata  Sehat yang dicanangkan oleh Dinas Pariwisata Kota Madya Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Demikian juga dalam sosialisasi pelayanan dan peningkatan kualitas karyawan hotel dan pedagang kaki lima Malioboro, beliau  menjadi tangan kanan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. 


Purwanto Sumarto Putro ,S.Sos,SH,MSi,MPar. adalah manusia pembelajar. Sebagai manusia pembelajar yang tidak pernah berhenti belajar, beliau telah menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar akademik S.Sos. dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik  Kartika Bangsa - Yogyakarta, Sarjana Hukum dari UNS Surakarta, M.Si Sosiologi dari Isipol UGM, M.Par. dari STIEPARI Semarang. Untuk seminar dan lokakarya tak terhitung lagi sudah berapa banyak yang diikuti dan jumlah sertifikat yang dimiliki.
Beliau telah menerapkan belajar seumur hidup, tidak untuk mencari kerja tapi untuk meningkatkan wawasan, memperluas pergaulan dan membangkitkan semangat belajar anak didiknya.
Kami menunggu pengendali Akademi Pariwisata AKPARDA sekualitas beliau bahkan bila memungkinkan lebih. 

LOGO AKPARDA

Kamis, 02 Desember 2010

PETUAH YANG HARUS DIMAKNAI SECARA DALAM


Suatu ketika di akhir tahun 1960-an SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX dihadapan karyawan NITOUR INC. Sebuah Perusahaan Perjalanan Nasional  berskala Internasional, menyampaikan petuah yang sampai sekarang tidak mudah saya lupakan. Pada waktu itu saya hadir sebagai tamu. Hal ini berkaitan dengan harapan dan himbauan beliau pada kinerja karyawan perusahaan tersebut. Beliau berharap agar karyawan selalu berusaha bekerja baik, memelihara perusahaan ini sebagai ladang kehidupan keluarga para karyawan.
Kalau saja yang menyampaikan petuah ini adalah  pimpinan sebuah perusahaan, yang besar sekalipun, ia hanyalah seorang pengusaha yang notabene berharap memperoleh laba lebih besar karena kinerja unggul para karyawannya.

Tapi petuah ini disampaikan oleh seorang  panutan, seorang pejuang bangsa, seorang Sultan dari Kraton Yogyakarta, seorang pejabat Negara, yang mana ucapannya tidak bisa dianggap angin lalu yang mudah terlupakan. Petuah ini harus dimaknai secara mendalam, disimpan dan ditebarkan pada anak cucu kita.

Dari petuah ini bisa diambil perumpamaan seperti seorang petani yang tidak memelihara sawah  ladangnya dengan baik, jangan berharap memperoleh hasil yang bisa memakmurkan dan mampu menghidupi diri dan keluarganya.

Kalau seorang ayah dan ibu tidak ngrumat anak-anaknya dengan baik dan membiarkannya tumbuh semaunya sendiri, baik karena kemiskinan ataupun karena kelimpahan harta, akan memetik hasil sesuai dengan apa yang telah dicontohkan para orang tuanya. Mereka belajar pada apa yang telah dilakukan, dilihat dan didengar dari para  orang tuanya.

Demikian juga kita sebagai bangsa kalau saja kita tidak pernah belajar atau diajari agar bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, demikian juga halnya yang akan ditiru dan berakibat fatal pada generasi penerus  bangsa.
Untuk orang miskin beban kesengsaraan sudah langsung mereka rasakan, tetapi bagi orang yang punya uang kejadiannya hanya mundur selangkah, karena akibat-akibat tindakan yang boleh dikatakan sudah masal dilakukan oleh masyarakat sebagai komponen bangsa.

Hutan yang menjadi tandus karena dibabat baik untuk sekedar kayu bakar, maupun dicuri untuk dijual ke luar negeri melalui cukong-cukong pembalakan liar,  akan bermuara pada bencana-bencana yang saling sambut menyambut karena kemurkaan alam dengan sebab tindakan tak bertanggung jawab rakyat miskin dan keserakahan para pengusaha yang memperoleh kesempatan untuk menebangnya.
Sumber yang paling utama adalah kedisiplinan. Siapapun perlu disiplin. Jangan hanya beranggapan yang perlu disiplin itu tentara, dan itupun hanya dalam baris-berbaris., dan karena miskin tidak perlu disiplin, jangan karena kuasa dan punya uang tidak perlu disiplin. Pelecehan-pelecehan yang terjadi dan dimanapun adalah karena tidak adanya kedisplinan.

Berjalan di jalur yang salah, berjualan di jalan dan halte bus yang bukan peruntukkannya. Parkir kendaraan yang bukan semestinya. Sebagian besar berdalih kemiskinan dan pengangguran. Membuang sampah dimana saja, mengotori jalanan dan menyumbat saluran air dan membuntu sungai dan membanjiri pemukiman. Siapa yang salah?

Semoga untuk selanjutnya para pemeran jagoan dan premanisme menyadari bahwa apa yang dilakukannya telah melanggar disiplin dan aturan. Kemiskinan tidak diatasi dengan mengeluh dan mengambil hak orang lain, tapi perlu menyingsingkan lengan baju dan mengucurkan keringat atau memeras otak untuk memperoleh imbalan bagi kehidupan keluarga kita.

Bingung? Mari belajar mengatasi masalah dengan cara berdisiplin, mau terus belajar dan mampu bekerja keras dan bekerja secara cerdas.

Mungkin inilah sebagian kecil petuah beliau yang bisa diterjemahkan. Sehingga apa yang dikehendaki beliau bisa kita maknai dan terapkan untuk memakmurkan diri kita, masyarakat dan bangsa ini. (PS Atma Yudha Pratama).